Indonesia Butuh Satelit dan Drone untuk Pantau Pergerakan Terorisme

0
369

Aktivitas kelompok terkait terorisme perlu dipantau secara cermat. Bahkan, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan dibutuhkan satelit dan drone untuk memantau pergerakan terorisme.

“Satelit siapa aja yang dikasih. Bicara terorisme kan musuh dunia, mereka senang menawarkan perlunya apa, Inggris, Prancis, Jerman. Kalau saya telepon juga jadi, tapi tunggu, kita minta bantuan kalau penting, kalau kita mampu, enggak perlu [minta bantuan],” kata Ryamizard, sebagaimana dilansir dari laman Bisnis (8/ 11).

Hal itu disampaikannya di sela-sela seminar bertajuk Ensuring Regional Stability Through Cooperation on Counter Terrorism pada kegiatan Indo Defence 2018 and Forum, JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (8/11).

HARUS BACA :  KRI Bima Suci Diresmikan KASAL di Spanyol

Ryamizard menegaskan aksi-aksi yang dilakukan teroris selama ini bukan merupakan ajaran Islam.

“Teroris bukan Islam, Islam bukan seperti itu. Itu merusak Islam. Jadi sebetulnya teroris adalah musuh Islam. Islam membawa rahmat di muka bumi ini,” katanya.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini menambahkan, untuk mencegah terorisme diperlukan kerja sama semua negara dan seluruh elemen bangsa.

“Harus bersama-sama rakyat kalau cuma tentara cuma 2 persen,” ucapnya.

Filipina

Sementara itu Menteri Pertahanan Filipina Delfin Negrillo Lorenzana mengatakan soal patroli laut yang dilakukan dalam kerangka perjanjian trilateral untuk melawan pembajakan di laut.

HARUS BACA :  Apache Puspenerbad Jalani Uji Terbang

Menurut dia, patroli tersebut cukup efektif, sebagaimana patroli yang dilakukan pada 2017. Sejak patroli bersama dilakukan, pembajakan atau penculikan di laut mulai berkurang.

Selain itu, kata dia, Filipina juga aktif dalam ADMM dan KTT Asia serta latihan bersama dengan Brunei Darussalam.

Ia mengatakan, usaha untuk memerangi kejahatan transnasional dalam memerangi terorisme di kawasan maritim penting dilakukan. Filipina pun mematuhi ketentuan UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea) 1982  atau konferensi PBB tentang hukum laut.

“Tantangan utama dalam menghadapi terorisme di Laut Sulu yang cukup sibuk, butuh kekuatan yang cukup besar,” katanya.

HARUS BACA :  Frigate Rusia Dilaporkan Lacak Kapal Selam Siluman AS

Ia menambahkan, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah adanya trust building antara Indonesia dan Filipina untuk sharing informasi, dengan menempatkan tujuan memerangi terorisme dalam kerangka our eyes sebagai hal yang signifikan.

“Saya akan menciptakan framework untuk negara kita [Filipina], menjaga sumber daya alam dan teroris tidak boleh menculik di kawasan tersebut. Kawasan Asia harus bersih dari terorisme,” tegasnya.

Photo: Anka-S di Indo Defence 2018 (shephard media)

Kami sangat menghargai pendapat anda. Bagaimanakah pendapat anda mengenai masalah ini? Tuliskanlah komentar anda di form komentar di bagian bawah halaman ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here