Saatnya Mengkaji Ulang Penjualan Alutsista AS

Mayor Kiyun Jung, pilot Angkatan Udara Republik Korea F-35A, bersiap untuk misi solo pertamanya 20 Juli, di Pangkalan Angkatan Udara Luke, Arizona.

Militer.or.id – Menjual persenjataan adalah bisnis utama bagi Amerika Serikat. Departemen Luar Negeri berhasil mengamankan penjualan senilai $ 75,9 milyar dalam kesepakatan senjata di tahun fiskal 2017, berdasarkan perhitungan Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan (DSCA), seperti dilansir dari laman National Interest.

Presiden Donald Trump adalah orang yang mendorong penjualan senjata, jet tempur, misil, sistem anti-udara dan teknologi militer Amerika Serikat kepada para pembeli di luar negeri, demi untuk menumbuhkan lapangan kerja manufaktur pertahanan dalam negeri Amerika dan untuk meningkatkan pengaruh pada kebijakan luar negeri AS atas negara-negara yang memilih untuk membeli alutsista Amerika.

Cato Institute menilai bahwa Washington telah mengirimkan berbagai platform senjata, peralatan dan layanan pelatihan konvensional senilai $ 197 miliar ke 167 negara antara tahun 2002-2016.

Kompleks Pertahanan Rudal Aegis Berbasis Darat di Rumania © US Navy via Wikimedia Commons

Apa dilihat Trump sebagai bisnis yang baik, namun bagaimanapun, banyak orang Eropa melihat itu semua sebagai penyumbang ketidakamanan di zona konflik. Minggu lalu, Parlemen Eropa mengesahkan resolusi yang tidak mengikat kecuali mengutuk Amerika Serikat karena secara sistemik melanggar perjanjian penggunaan akhir dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih berbahaya.

HARUS BACA :  Kapal Selam Amerika Kehilangan Waktu Operasi Hingga 5 Tahun

Sementara Brussels juga mengecam negara-negara Eropa seperti Bulgaria dan Rumania untuk menerobos prosedur ekspor persenjataan Uni Eropa, blok tersebut tampaknya menempatkan sebagian besar tanggung jawab kepada Washington. Dalam ketentuan khusus, parlemen telah menyerukan ditetapkannya embargo oleh UE pada transfer pertahanan ke Amerika Serikat.

Jet tempur F-16D Angkatan Udara AS lepas landas dari Pangkalan Udara Bulgaria © USAF Wikimedia Commons

Ini adalah teguran yang mengejutkan dari sekutu-sekutu Eropa ke Washington, tetapi satu hal yang dapat dimengerti mengingat banyaknya peralatan militer Amerika yang telah “direbut” oleh organisasi teroris di medan perang Irak dan Suriah.

HARUS BACA :  Rouhani : AS Memasuki Periode Terburuk dalam Sejarahnya

Kenyataannya, ISIS yang telah menjadi penerima manfaat utama atas kebijakan ekspor persenjataan AS yang longgar, yang lebih refleksif dan didasarkan pada pertimbangan jangka pendek daripada pertimbangan strategis.

Siapa yang bisa melupakan citra ikonik dari pejuang Negara Islam yang berjubah hitam, berjanggut panjang yang bekerja disebuah pabrik donat milik AS? Atau foto-foto militan ISIS yang berpose di depan kendaraan angkut personel buatan AS yang dijarah dari tentara Irak?

Kendaraan tempur taktis Humvee milik Angkatan Bersenjata Irak © US Army via Wikimedia Commons

ISIS telah mendapat begitu banyak persenjataan AS sehingga Washington telah dipaksa untuk mengebom peralatannya sendiri untuk mengurangi kerusakan. Mantan Perdana Menteri Irak Haider Al-Abadi memperkirakan kehilangan sekitar 2.300 unit kendaraan humvee dari persediaan pemerintah Irak selama serangan ISIS ke Mosul tahun 2014.

HARUS BACA :  Para Raider 501 Kostrad Turut Amankan Suro Agung di Madiun

Ketika pasukan Irak mundur secara tergesa-gesa dari Ramadi pada tahun 2015, ISIS menyerbu gudang dan pangkalan militer, mengklaim apa yang dikatakan juru bicara Pentagon saat itu termasuk seratus kendaraan berat dan mungkin setengah lusin tank. Organisasi teroris itu bahkan mengubah humvee “Made in AS” menjadi bom mobil bunuh diri yang hampir tak tertembus, menjadikan mereka musuh yang tangguh bagi tentara Irak yang menderita demoralisasi, kepemimpinan yang buruk dan kelelahan.

Sementara itu di Suriah, senjata Amerika yang ditujukan untuk faksi “oposisi moderat” secara paksa disita oleh kelompok-kelompok teroris yang dimaksudkan untuk diperangi senjata-senjata tersebut.

Sejumlah senjata anti-tank yang ditemukan dari medan pertempuran Suriah © Russian MoD via Live UA Map

Berdasarkan laporan dari Penelitian Konflik Bersenjata pada tahun 2017, menemukan sejumlah contoh dimana senjata-senjata yang dibeli oleh AS dari Balkan telah dicuri, dijual, atau diserap oleh kelompok-kelompok yang lebih radikal.

Senjata anti-tank buatan Eropa dijual ke Amerika dan ditransfer pada pasukan oposisi Suriah kemudian ditemukan telah dipergunakan oleh ISIS. Menurut laporan tersebut, “pasokan material dalam konflik Suriah dari pihak asing, terutama Amerika Serikat dan Arab Saudi, secara tak langsung telah memungkinkan ISIS untuk memperoleh sejumlah besar amunisi anti-lapis baja”. Senjata-senjata tersebut termasuk ATGW dan beberapa jenis roket dengan hulu ledak tandem, yang mana dirancang untuk mengalahkan armor reaktif modern.

HARUS BACA :  Rudal Hantam Area Bandara Damaskus, Diduga Serangan Israel
HARUS BACA :  KRI Bima Suci Singgah di Colombo Sri Lanka

Orang-orang Eropa pun memiliki masalah mereka sendiri dalam hal ini. Negara-negara Balkan seperti Bulgaria, Kroasia dan Montenegro yang sebelumnya menjual senjata dan amunisi kecil era Soviet ke Arab Saudi, Yordania dan Turki, melihat senjata yang sama ini dialihkan ke Suriah dan Yaman. Dalam sejumlah kasus, senjata itu berakhir dalam kepemilikan kelompok-kelompok ISIS.

Sejarah baru-baru ini telah memberi keyakinan terhadap kekhawatiran Parlemen Uni Eropa pada industri senjata yang semakin berpengaruh. Dampak di mana senjata yang dikirimkan kepada proxy dapat direbut oleh kelompok musuh dan digunakan melawan Anda, adalah masalah yang jelas dan telah dikonfirmasi melalui penyelidikan PBB dan peneliti senjata non-pemerintah. Perjanjian pengguna akhir, yang mengharuskan bagi pembeli untuk meminta izin dari pemasok sebelum menjual senjata itu ke pihak ketiga, telah dilanggar berulang kali dan hampir tidak ada konsekuensinya.

Tetapi politisi Uni Eropa harus melihat rumah mereka sendiri sebelum menunjukkan jari kepada Amerika Serikat. Sama seperti Uni Eropa yang mungkin ingin berkhotbah dan mengkuliahi Washington mengenai bahaya moral daripada penjualan pertahanan, anggota Uni Eropa juga harus ikut disalahkan atas gunung senjata kecil di zona perang dunia Arab dan bazaar senjata.

Kami sangat menghargai pendapat anda. Bagaimanakah pendapat anda mengenai masalah ini? Tuliskanlah komentar anda di form komentar di bagian bawah halaman ini.

Rendy Raditya
Rendy Raditya
Menyebarkan berita berita Militer Indonesia dari media media mainstream Asia dan Indonesia. Mendambakan Kekuatan Militer Indonesia menjadi salah satu yang disegani kembali di kawasan.

Latest articles

HARUS BACA :  Indonesia Akan Lanjutkan Sistem Imbal Beli Alutsista

Diremajakan Jadi Destroyer, AL Australia Pensiunkan Fregat Berudal

Diremajakan Jadi Destroyer, AL Australia Pensiunkan Fregat Berudal - Militer.or.id. Angkatan Laut Australia alias Royal Australian Navy telah mengadakan upacara pelepasan dua kapal perangnya...

Misi Operasional Pertama F-35 Inggris : Mondar Mandir Siprus – Suriah – Irak

Misi Operasional Pertama F-35 Inggris : Mondar Mandir Siprus - Suriah - Irak - Militer.or.id. Pejabat kementerian pertahanan Inggris mengkonfirmasi bahwa pesawat tempur terbaru...

Pesawat Angkatan Udara India Jatuh Lagi

Pesawat Angkatan Udara India Jatuh Lagi - Militer.or.id. Sebuah pesawat angkut militer milik Angkatan Udara India dilaporkan hilang dengan 13 awak dan penumpang diatasnya....

Bermasalah Terus, Serah Terima Kapal Selam Nuklir Yasen-M Rusia Mundur Lagi

Bermasalah Terus, Serah Terima Kapal Selam Nuklir Yasen-M Rusia Mundur Lagi - Militer.or.id. Untuk ke sekian kalinya, penyerahan kapal selam nuklir project 885-M Yasen...
44.1k Followers
Follow

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here