Sanksi Terhadap Korea Utara Abaikan Akar Persoalan

Militer.or.id – Sanksi Terhadap Korea Utara Abaikan Akar Persoalan.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin (Russian Embassy, IDN)

Jakarta – Rusia menilai pengetatan sanksi ekonomi terhadap Korea Utara oleh Dewan Keamanan PBB tidak efektif, mengingat Pyongyang masih terus mengembangkan program persenjataan nuklir dan peluru kendali.

“Sanksi baru itu tidak efektif sebab mengabaikan akar persoalan,” ujar Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin, dalam jumpa pers pada Rabu 27-9-2017,di Jakarta.

Pada 2 minggu lalu, Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sejumlah sanksi baru kepada Pyongyang, di antaranya melarang negara anggota mengimpor produk tekstil dari Korea Utara, yang menjadi komoditas ekspor terbesar kedua sesudah batu bara dan menetapkan batasan impor energi untuk negara itu.

HARUS BACA :  Pesawat Mata-Mata AS Kembali Dicegat Oleh Flanker Rusia

Kedua sanksi ekonomi itu melengkapi kebijakan Dewan Keamanan sebelumnya, yang menyasar ekspor batu bara dari Korea Utara.

Tetapi, negara pimpinan Kim Jong-un itu tidak bergeming dan bersikeras akan tetap melanjutkan program persenjataan nuklir dan mengembangkan peluru kendali antarbenua, yang bisa menyerang daratan Amerika Serikat.

“Korea Utara bersikeras melanjutkan program persenjataan mereka sebab merasa terancam ekistensinya. Inilah akar persoalan yang diabaikan oleh Dewan Keamanan,” kata Mikhail Galuzin.

HARUS BACA :  50 Units Deal Contract for Sanca and 20 Units Deal Contract for ILSV

Mikhail Galuzin menjelaskan bahwa latihan militer tahunan yang dilaksanakan bersama antara Korea Selatan dengan Amerika Serikat adalah ancaman terbesar bagi Pyongyang yang membuat mereka merasa perlu untuk membuat senjata nuklir.

Selain itu, Amerika Serikat juga mempunyai kehadiran militer yang sangat besar di beberapa negara tetangga Korea Utara. Di Jepang, mereka menempatkan sekitar 40.000 tentara, sementara di Korea Selatan ada sekitar 35.000 personil.

HARUS BACA :  Rusia: Suriah Berhak Kejar Pemberontak Keluar Idlib

“Keadaan ini membuat Korea Utara merasa terancam, terutama sesudah mereka melihat apa yang terjadi pada Saddam Hussein di Irak atau Muammar Gaddafi di Libya,” kata Mikhail Galuzin merujuk pada serbuan militer Amerika Serikat ke kedua negara tersebut, yang membuat Saddam dan Gaddafi terguling.

Rusia menyarankan masing-masing pihak, yang terlibat dalam kemelut di Semenanjung Korea, menghentikan provokasi, termasuk di antaranya tidak melaksanakan latihan militer tahunan Amerika Serikat dengan Korea Selatan. (Antara).

Rendy Raditya
Menyebarkan berita berita Militer Indonesia dari media media mainstream Asia dan Indonesia. Mendambakan Kekuatan Militer Indonesia menjadi salah satu yang disegani kembali di kawasan.

Latest articles

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here